Aku adalah murid SMA Shinhwa, sekolah yg cukup terkenal di Korea. Banyak sekali anak-anak yang bersekolah disana, tapi banyak juga yang mati disana karena suatu tragedi.
Kau bertanya-tanya tragedi apakah itu? Orang-orang biasa menyebutnya “Death Note.” Aku akan menceritakan tentang Death Note, dan bagaimana pengalamanku ketika bertemu dgn hantu yg sesungguhnya.
Namaku Park Hyu Yeon. Hari ini, aku sungguh badmood. Bahkan aku sampai tertidur di kelas.
“Semuanya, besok akan diadakan Persami…”
Aku terkejut mendengar perkataan dr Pak Choi, guruku. Bagaimana tidak? Setiap setahun sekali, pasti ada saja anak yg meninggal di Persami tersebut.
“Pak! Bukannya Persami sudah dihapuskan?” tanya salah seorang anak.
Pak Choi menghela napas. “Bapak tidak tahu. Sebenarnya bapak juga tidak setuju diadakan Persami, karena sudah begitu banyak siswa Shinhwa yg meninggal… Tapi apa yg harus bapak perbuat? Kepala sekolah ingin mengadakan Persami ini untuk membuktikan, apakah benar tragedi tahun-tahun sebelumnya terjadi juga tahun ini…” jelas Pak Choi.
“Tapi pak, kami tidak mau mati…”
“Kami tidak mau ikut!”
“Sudahlah, kalian jgn membantah! Kita ikuti saja aturan dr Kepsek! Sudah, waktunya istirahat!”
Aku merenung. Bagaimana jika aku yg terbunuh? Aku tak bisa membayangkan semuanya. Tahun lalu, aku harus kehilangan sahabatku yg ikut Persami. Dan sehari sebelum ia meninggal, ia berkata padaku,
“Jangan pernah tidur di ruang kelas 11-3 saat Persami, jangan pernah mengambil sebuah buku hitam di sana malam itu.”
Aku tidak mengerti apa yg dikatakannya. Tapi jika itu memang benar, aku akan melakukannya.
Aku melangkah lunglai menuju ruang perpustakaan di ujung koridor. Ruang perpustakaan tampak seram. Dindingnya berwarna abu-abu dan tampak pudar. Entah kenapa meskipun merinding, aku tetap melangkah ke ruangan itu. Seolah-olah ada yg mendorongku untuk masuk ke sana.
Di sana sepi. Hening. Tak ada suara sama sekali. Hanya ada 2 orang yg sedang sibuk membaca sehingga tidak menyadari kehadiranku. Aku segera duduk di sebuah kursi panjang paling pojok. 1 orang keluar. Tinggal aku dan seorang perempuan yg tidak kukenal.
Aku berjalan ke rak-rak dimana ensiklopedi berada. Setelah mengambil satu buah buku yg kucari, aku duduk kembali.
Aku melirik ke perempuan di depanku. Ia tampak serius membaca sebuah buku bersampul hitam. Di covernya tertulis : “Death Note.”
Aku langsung terkejut dan tanpa sadar berteriak. Suaraku bergema di ruangan. Perempuan itu pun menengadah.
“Eh… mianhae…” ujarku.
Dia mengangguk pelan. Wajahnya pucat. Bulu kudukku berdiri. Si… siapa dia? Dan buku apa yg dibacanya?
Karena penasaran, dgn takut”, aku bertanya padanya.
“Hm… kau kelas berapa?” tanyaku.
“Aku?”
“Ne…”
“Kelas 11-3…”
Rasa takutku semakin besar. Buku “Death Note”, dan kelas 11-3. Semuanya berhubungan dgn kematian!
Aku tidak melanjutkan percakapanku dengannya. Ingin rasanya aku keluar, tapi tiba-tiba saja, kakiku tak bisa digerakkan!
Jantungku berdetak kencang ketika melihat tangan perempuan itu. Tangannya berdarah! Aku semakin takut. Hanya aku dan dia di ruangan ini. Jadi aku harus apa?
Dan saat aku ingin berdiri, buku ensiklopedi yg kubaca terjatuh ke bawah meja. Aku segera mengambilnya dan lagi-lagi terkejut.
Ia tidak mempunyai kaki?!
Aku cepat-cepat berdiri dan berlari meninggalkannya.
“Kau harus percaya bahwa kau akan mati.”
Aku menoleh. Dia menatapku sambil mengacungkan buku hitam itu. Aku menggeleng lalu membuka pintu perpus dan segera meninggalkan perempuan itu.
Malam Persami pun tiba. Aku berpasangan dgn Dam Gi. Yah, walaupun sudah ada teman, aku masih takut.
Ketakutanku tak berlangsung lama, karena Dam Gi mengajakku mengobrol. Tapi tiba”, dia ingin ke kamar mandi.
“Aku ke kamar mandi dulu, ya.”
“Hah?! Kau tidak takut?” tanyaku.
Dia menggeleng. “Buat apa takut?”
Dam Gi berlari keluar tenda. Aku hanya meringkuk di dalam. Sepi sekali.
Sudah lima belas menit, tapi Dam Gi belum kembali. Aku sangat khawatir. Jangan”, Dam Gi kenapa-napa?!
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Dam Gi belum kembali. Aku harus apa?
Aku pun keluar dan membuka satu persatu tenda guru” dan teman”ku tapi mereka sudah terlelap. Aku semakin merinding.
Tiba” terdengar suara jeritan. Aku bergidik. Siapa itu?! Dam Gi?!
“TOLOONGG! HYU YEOOON!!! TOLONNGG!”
Dia meminta tolong padaku! Tapi aku takut. Dam Gi terus berteriak. Karena kasihan, aku pun memberanikan diri dan segera melangkah di koridor sekolah. Sepi.
Aku mengikuti asal suara itu. Di kamar mandi, tidak ada orang. Di kelas”, juga tidak ada. Dan saat aku berada di ujung koridor, tepat di depan perpus, aku melirik ke dalam. Aku tak berani masuk ke sana. Tapi suara Dam Gi selalu menggema disana. Dam Gi ada di perpustakaan. Untuk apa?
Aku pun menghela napas dan masuk ke dalam. Suara sepatuku bergema di sana.
“Dam Gi??? Dam Gi! Aku datang!”
Tidak ada jawaban. Tidak ada orang disana.
Aku menatap meja perpus satu persatu. Mataku menangkap sebuah buku hitam di salah satu meja. Buku hitam! Entah kenapa, ada yg menarik tubuhku untuk membaca buku itu.
Aku terduduk di hadapannya. Jantungku berdegup kencang. Ken… kenapa seperti ini? Apa aku… akan menjadi korban selanjutnya?
Aku membaca buku itu…
Yaa, aku memang tak mau ikut Persami…
Tapi mau apa? Aku harus ikut…
Aku tidak menyangka, bahwa aku harus menjadi korban Death Note…
Aku mati…
Aku selalu melihat Hyu Yeon, sahabatku sedang bercanda riang dgn teman barunya…
Aku kangen sekali padanya, namun apa dayaku?
Ia takkan pernah bisa melihatku karena aku tembus pandang…
Aku ingin sekali bersamanya sampai kapanpun…
Maka aku memutuskan untuk…
Membunuhnya sekarang!
BRAK! Aku tak bisa bernapas. Sesak…
BRAK! Aku tak bisa bernapas. Sesak…
Tolong…
~DEATH!~
Dua hari kemudian, aku melangkah masuk ke kelas dan melihat keadaan begitu hening. Di perjalanan tadi, aku memikirkan Dam Gi. Dia tak kutemukan waktu Persami… Apa dia mati?
Tidak! Dia ada di kelas sekarang! Dam Gi sedang menulis di bukunya.
Aku tak percaya ini! Aku melihat teman”ku satu persatu. Wajah mereka lesu. Kelihatannya ada sesuatu yg menyedihkan.
Aku teringat akan tragedi di perpustakaan kemarin lusa. Untung aku berhasil menyelamatkan diri, coba kalau tidak.
Aku tak ingin ada korban lagi disini. Maka aku pun berteriak lantang,
“TEMAN-TEMAN! HANTU ITU BENAR-BENAR ADA DISINI!”
Teman”ku hanya diam.
“HEI, AKU SERIUS!!!”
Mereka tak menghiraukanku, seolah-olah aku tak ada disini.
“KALIAN, TOLONG LIHAT AKU DONG!”
Mereka memang menganggapku kosong. Karena kesal, aku pun menghampiri meja salah seorang temanku.
“Hei, kenapa kalian tak mendengarku, sih?!”
Dia tak melihatku. Dia malah berbicara kepada teman sebelahnya.
“Aku tak percaya, Hyu Yeon meninggal…”
Aku membelalak mendengarnya. Bisa”nya dia berbicara begitu. Padahal aku ada disini, di depannya!
“Yu Ri, kau kalau ngomong jgn sembarangan ya! Aku ini hidup!”
Yu Ri menyeka air matanya. Dia kenapa, sih?!
Kemudian teman sebelahnya berujar, “Aku juga masih tidak percaya bahwa hantu itu ada. Aku tak menyangka… dia menjadi korban juga.”
Aku kaget. Kenapa mereka bicara begitu? Aku menatap ke seluruh penjuru kelas, tampak mereka sedang terisak.
Aku mati?
Ah, ini lelucon. Aku tak percaya.
Tiba”, aku merasakan diriku melayang. Ringan sekali. Ap… apa aku telah mati? Tap… tapi…
Pintu kelas terbuka. Pak Choi masuk sambil menunduk. Aku memandangnya. Tapi dia terus berjalan… menembusku!
“Pemakamannya berlangsung kemarin sore. Mari kita berdoa untuknya,” Pak Choi dan yg lainnya mulai berdoa.
Apa?!?! Jadi aku… aku meninggal?
:’(
Jadi saat aku membaca buku itu, aku akan mati? Dan sahabatku yg membunuhku? Aku jadi hantu sekarang… Aku tak percaya kalau aku bisa menjadi hantu…
Dan aku harus bisa menjalani hidupku sbg hantu.
Terimakasih sudah mau membaca curahanku ini…
Dan apabila kalian menemukan buku hitam itu, berhati-hatilah!







0 komentar:
Posting Komentar